Jakarta, VIVA – Analis politik dan hukum, Boni Hargens mengapresiasi komitmen Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam mengoptimalkan peran Polri dalam mendukung pelestarian dan penguatan nilai tradisi di Indonesia.
Boni menilai performa Polri tersebut bagian dari upaya mengokohkan fondasi dan memperkaya dinamika budaya nasional di tengah gempuran budaya global dewasa ini yang berpotensi mengikis identitas budaya nasional Indonesia.
“Globalisasi memungkinkan generasi muda kehilangan rasa bangga terhadap budaya bangsa sendiri. Kegiatan para seniman kontemporer yang didukung Kapolri merupakan upaya penyelamatan budaya nasional yang notabene selaras dengan agenda budaya dalam Asta Cita Prabowo-Gibran,” jelasnya.
Boni menegaskan seni tidak sekedar ekspresi budaya sang seniman, tetapi di dalamnya mengandung pengungkapan identitas dan jati diri bangsa, ingatan kolektif bangsa terkait nilai dan warisan leluhur serta bisa membentuk karakter bangsa dengan membentuk dan memupuk rasa persatuan dan kebanggaan bangsa.
Karena itu, kata Boni, kehadiran Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di acara pameran seni tersebut juga merupakan wujud langkah Polri memperkuat pemerintahan Prabowo-Gibran di bidang budaya dan seni.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menghadiri pembukaan Pameran Nasirun bertajuk “Bersimpuh di Kaki Para Guru” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu malam, sebagai bentuk apresiasi terhadap seni dan budaya Indonesia.
Kehadiran Kapolri juga menjadi dukungan terhadap upaya seniman dalam merawat warisan budaya, menghormati para pendahulu, serta menghadirkan nilai-nilai tradisi yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Pameran “Bersimpuh di Kaki Para Guru” merupakan wujud penghormatan Nasirun kepada para guru dan perupa pendahulu yang memberikan inspirasi serta membentuk perjalanan keseniannya.
Nasirun dikenal sebagai salah satu pelukis kontemporer Indonesia yang konsisten mengangkat kebudayaan Jawa, spiritualitas, dan persoalan sosial melalui karya-karyanya. Sejumlah karya dari berbagai periode ditampilkan dalam pameran tersebut, antara lain Persembahan untuk Bathara Guru (1999), Komidi Putar Pasar Malam (2010), Tahta untuk Petruk (2015), Realis yang Semurni-murninya (2018), serta Kopiah Pertama yang Dilukis Nasirun (2023).
Karya-karya itu menggambarkan perjalanan Nasirun dalam memadukan tradisi, spiritualitas, serta refleksi terhadap kehidupan sosial melalui bahasa seni kontemporer.
Pameran dapat dikunjungi masyarakat mulai 13 September hingga 11 Oktober 2026. Pameran dibuka Selasa hingga Kamis pukul 10.00–18.00 WIB serta Jumat hingga Minggu pukul 10.00–20.00 WIB, sedangkan setiap Senin tutup.
Melalui pameran tersebut, nilai penghormatan kepada guru dan perupa pendahulu dihadirkan sebagai bagian dari perjalanan berkesenian Nasirun sekaligus upaya mempertahankan keterhubungan antara warisan budaya dan perkembangan seni kontemporer.



